Dengan "Ilmu Agama" Buatan Manusia Petunjuk Allah Tergelapkan

Perbedaan Petunjuk Dan Ilmu ALLAH


    

DG "ILMU AGAMA" BUATAN MANUSIA PETUNJUK ALLAH TERGELAPKAN.

 

PROLOG:

Untuk ukuran medsos tulisan ini sangat panjang sekali, mungkin akan capek dan jemu membacanya. Tapi bagi anda yg percaya dan ingin SELAMAT DI AKHIRAT, tulisan ini sangat penting sekali untuk dibaca. Maka disarankan agara postingan ini disimpan atau dikopas pada media off lline agar bisa dibaca berangsur di kala senggang.

______________.........

 

Tidak ada sepotongpun ayat yg menyatakan bahwa Al Quran itu ILMU, melainkan PETUNJUK.., PETUNJUK.. dan PETUNJUK ( ... هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ ... )

 

ILMU dan PETUNJUK itu dua hal yg sangat sangat berbeda sekali.

 

ILMU itu adalah pengetahuan tentang seluk beluk mengenai apa yg Allah CIPTAKAN (apa yg ADA dan TERJADI). Sedangkan PETUNJUK itu adalah keterangan tentang tata cara, tahapan/prosedur melakukan sesuatu usaha untuk maksud/tujuan tertentu. Atau petunjuk itu bisa pula berupa sesuatu (benda atau fenomena) yg mengindikasikan sesuatu yg ingin diketahui.

 

ILMU itu PERMANEN dan abadi karena tidak ada perubahan pada penciptaan yg Allah lakukan (.... لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ...). Sedangkan PETUNJUK itu kondisional, situasional, temporal.

 

Contoh :

Pada temperatur seberapa air berubah menjadi es (membeku)..? Sejak zaman Nabi Adam sampai kapanpun dan dimana2pun sama. Kemudian orang menyebutnya "titik beku air" itu  0°C. Begitulah ILMU.

 

Bagaimana cara membeli tiket kereta api..? Bagaimana cara mdapatkan KTP..? di berbagai tempat dan zaman berbeda2.. Begitulah PETUNJUK

 

Maka (yg benar2) ILMU itu tidak pernah usang, sedangkan PETUNJUK bisa kadaluwarsa atau tidak relevan atau bahkan tidak berlaku. Dengan begitu ketika suatu PETUNJUK statusnya diubah menjadi ILMU adalah suatu penggelapan, antara lain menggelapkan aspek relevansi dan kadaluwarsa.

 

ILMU itu harus "dibeli" (butuh biaya untuk mendapatkan atau membagikannya), sedangkan petunjuk itu gratis. Produk berharga mahal sekalipun, buku petunjuk (manual)-nya mah gratis. Maka manusia yg menyampaikan PETUNJUK ALLAH itupun tidak minta UPAH (....  لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا...), untuk mendapatkan petunjuk Allah itupun tak butuh biaya dan waktu yg lama, bisa diperolah seketika dan tanpa biaya.

 

Ketika seseorang mendapat suatu ILMU, maka ilmu itu jadi miliknya (sebagai hasil usahanya) mau ia gunakan untuk apapun, mau ia "jual", atau tidak digunakan sekalipun, adalah haknya. Karena setiap orang punya otoritas (hak mutlak) atas apapun yg merupakan miliknya.

 

Sedangkan petunjuk itu mau tidak mau harus digunakan (diikuti/dipatuhi) tanpa sanggahan jika seseorang ingin mencapai apa yg dia tuju, Tapi petunjuk itu tidak menjadi milik penggunanya, tetap pada posisi dan statusnya, tetap dalam domain pihak yg membuatnya. Jika suatu petunjuk diotak atik atau diubah2 oleh penggunanya, pasti kacau jadinya. Legalitas dan efektifitas (kebergunaannya) hilang. Tidak bisa lagi disebut sebagai petunjuk dari Sang Pemilik apa yg ingin dituju oleh pengguna petunjuk tsb.

 

Ketika suatu petunjuk ada yg mengubah sebutannya menjadi ILMU, tercium aroma negatif yg patut dicurigai. Misalnya seserorang mengatakan : "saya punya ilmu untuk mendapatkan KTP". Nah lho.. jangan2 ada cara instan ilegal yg ia mau jual atau ia mau menipu dg membuat KTP palsu.

 

Selain biaya, untuk mendapatkan ilmu itu manusia butuh waktu yg sangat lama bahkan SEPANJANG MASA. Penggalian ilmu yg dilakukan oleh satu generasi manusia di satu zaman adalah kelanjutan dari penggalian dan penemuan generasi di zaman sebelumnya dan akan terus dilanjutkan oleh generasi2 berikutnya. Kemudian setiap individu manusia masing2  harus berkerja keras dan butuh waktu yg lama untuk bisa mendapatkan ilmu tsb.

 

Tidak demikian halnya dg PETUNJUK. Petunjuk itu simpel dan sederhana,  mudah dipahami, bisa didapat lewat apa saja atau siapa saja, bahkan orang yg butahuruf sekalipun. Untuk mengikuti petunjuk itupun mudah. Tidak butuh kepintaran atau ketinggian ilmu. Yg dibutuhkan hanya "percaya" (iman) bahwa petunjuknya itu BENAR dan LEGAL (sah) untuk diikuti, lalu diikuti dan dipatuhi secara benar dan konsisten (hanif).

 

Di tengah perjalanan manusia menjalani kehidupan dunia dg berbekal ILMU yg mereka gali/ekxplorasi, Allah mengingatkan adanya kehidupan di luar domain ilmu mereka, yaitu kehidupan akhirat yg abadi, seraya menawarkan PETUNJUK-Nya untuk SELAMAT di akhirat itu dari azab yg pedih dan meraih surga yg merupakan kristalisasi, akumulasi dan pengutuban segala bentuk kebaikan, kenikmatan, kedamaian dan kebahagiaan ("Wajah Allah").

 

                ... هَلۡ أَدُلُّكُمۡ عَلَىٰ تِجَٰرَةٖ تُنجِيكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ

.... Maukah Aku tunjuki kamu suatu perniagaan untuk menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Ash-Shaf : 10)

 

           .... أَؤُنَبِّئُكُم بِخَيۡرٖ مِّن ذَٰلِكُمۡۖ لِلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتٞ .....

... Maukah kamu aku kabari sesuatu yang lebih baik dari yang demikian itu (kesenangan dunia) Bagi orang2 yang BERTAKWA (mengikuti petunjukNya) di sisi Tuhan mereka ada SURGA .... (Ali 'Imran : 15)

 

Pada saat Adam dilepas ke bumi Allah menjanjikan (memberi harapan) kepadanya bahwa suatu saat nanti akan ada petunjuk DARI ALLAH dan MILIK ALLAH untuk mencegah/menghindari apa2 yg menakutkan dan atau menyedihkan, alias SELAMAT.

 

... فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدٗى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ

.... Jika benar-benar datang kepadamu petunjuk DARI AKU, maka barangsiapa mengikuti PETUNJUKKU, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati (SELAMAT)". (Al Baqarah : 38)

 

Petunjuk DARI ALLAH dan MILIK Allah itulah yg memberi harapan KESELAMATAN bagi manusia. BUKAN dari dan milik siapapun selain Allah.

 

Petunjuk Allah untuk memandu kehidupan manusia sepanjang masa sampai hari kiyamat itu, Allah mempersiapkan, merumuskan dan mengolahnya selama ribuan tahun pada "media" yg Dia pilih sendiri dari antara makhluk ciptaanNya yakni para Nabi/Rosul.

 

Pada diri2 Nabi/Rosul itulah Allah memproses dan sekaligus menstreaming/menayangkan pentunjukNya itu, bukan pada media lain berupa apapun buatan manusia, misalnya kertas (buku), mesin atau gadget.

 

                             فَإِنَّمَا يَسَّرۡنَٰهُ بِلِسَانِكَ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Kami memudahkan (memfasilitasi)-nya (al kitab [petunjukKu]) itu HANYA dengan LISANmu (rosul) agar mereka dapat mengambil pelajaran. (Ad Dukhan : 58)

 

                 فَإِنَّمَا يَسَّرۡنَٰهُ بِلِسَانِكَ لِتُبَشِّرَ بِهِ ٱلۡمُتَّقِينَ وَتُنذِرَ بِهِۦ قَوۡمٗا لُّدّٗا

Sesungguhnya Kami memudahkan (memfasilitasi)-nya (al kitab [petunjukKu]) itu HANYA dengan LISANmu agar dengan itu kamu dapat memberi kabar gembira kepada orang2 yang bertakwa, dan agar kamu dapat memberi peringatan kepada kaum yang membangkang. (Maryam : 97)

 

                                         إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٖ كَرِيمٖ

Sesungguhnya ia (Al Kitab [petunkKu]) itu benar2 (tersampaikan melalui) perkataan seorang Rasul yang mulia (Al Haqqah : 40)

 

Allah merumuskan (mensyari'atkan) serta meng-update dan meng update terus sampai ke titik SEMPURNA sekaligus menstreaming petunjukNya itu selama ribuan tahun lewat media diri2 nabi/rosul sejak Nabi Adam, sambung menyambung dari zaman ke zaman, generadi ke generasi dan telah mencapai titik SEMPURNA (KHATAM) pada diri MUHAMMAD ROSULULLAH dg men-streaming AL QURAN Kitabullah yg SEMPURNA tidak akan lagi mengalami perubahan, penambahan ataupun penggantian.

 

     وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدۡقٗا وَعَدۡلٗاۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

 

Dan telah sempurna KALIMAH (konsep/ajaran) Tuhanmu dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah2 (mengedit) KALIMAH-Nya itu .... (Al An'am : 115)

 

            سُنَّةَ مَن قَدۡ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِن رُّسُلِنَاۖ وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحۡوِيلًا

Suatu SUNNAH (jalan/cara yg dipilih) bagi orang yg Kami utus sebelum kamu, dan tidak akan kamu dapati perubahan pada cara Kami itu. (Al-Isra' : 77)

 

               ..فَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ ٱللَّهِ تَبۡدِيلٗاۖ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ ٱللَّهِ تَحۡوِيلًا

....maka kamu tidak akan mendapati pergantian pada Sunnatullah (sistem/cara Allah), dan tidak akan pula kamu dapati perubahan bagi Sunnatullah itu. (Fathir : 43)

 

Begitu tegas, jelas dan berulang2 Allah nyatakan bawa petunjuk Allah itu digelar/ditayangkan (streaming) HANYA dg satu cara (sistem) yaitu dihadirkanNya seorang Rosul dari kalangan mereka sendiri (kalangan mereka yg Allah beri petunjuk). Pada diri Rosul itulah terkemas (terinstal) petunjuk Allah, dan dengan mengikuti Rosul itulah mengikuti petunjuk Allah. Cara yg satu2nya ini (Sunnatullah) tidak akan pernah berganti atau berubah sepanjang masa.

 

Harapan yg Allah berikan (janji Allah) kepada Adam saat dilepas ke bumi yg berbunyi :

 

... فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدٗى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ

.... Jika benar-benar datang kepadamu petunjuk DARI AKU, maka barangsiapa mengikuti PETUNJUKKU, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati (SELAMAT)". (Al Baqarah : 38)

 

Wujud (realisasi) dari janji Allah tsb adalah apa yg Allah tujukan kepada keturunannya (bani Adam) yaitu :

 

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ إِمَّا يَأۡتِيَنَّكُمۡ رُسُلٞ مِّنكُمۡ يَقُصُّونَ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتِي فَمَنِ ٱتَّقَىٰ وَأَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ

Hai anak cucu Adam, jika datang kepadamu rasul2 dari kalanganmu sendiri yang menceritakan ayat2-Ku kepadamu (itulah petunjuk DARI AKu) maka barangsiapa bertakwa dan melakukan perbaikan (barangsiapa mengikuti PETUNJUKKU) maka tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati (SELAMAT). (Al A'raf : 35)

 

  وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ ٱللَّهُ إِلَّا وَحۡيًا أَوۡ مِن وَرَآيِٕ حِجَابٍ أَوۡ يُرۡسِلَ رَسُولٗا    فَيُوحِيَ بِإِذۡنِهِۦ مَا يَشَآءُۚ إِنَّهُۥ عَلِيٌّ حَكِيمٞ

Dan tidak akan pernah ada (terjadi) bagi seorang manusia bahwa Allah berbicara kepadanya (menyampaikan kalamNya) kecuali dengan cara : (1) wahyu atau (2) ("chat") dari balik hijab atau (3) dengan mengutus seorang Rosul lalu ia "mewahyukan" kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia itu Mahatinggi, Mahabijaksana (itulah cara yg layak [bijak] bagi Dia Yg Mahatinggi) (Asy Syura : 51)

 

Maka sia2 saja orang ingin mendapat Kalamullah (petunjuk dari Allah) dg cara bereksflorasi dari buku ke buku, dari pernyataan para tokoh besar, bersemedi menunggu mimpi atau pun bereksflorasi di DUNIA MAYA karena Allah tidak pernah menempatkan kalam/petunjuknya-Nya pada semua yg tersebut itu. Mana mungkin urusan Allah digelar dg menggunakan infra struktur buatan manusia.

 

Yg sejatinya dilakukan adalah mencari akses ke "LANGIT MAYA"  (وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ), carilah akses kepadaNya, karena petunjuk/kalam Allah itu sejenis RUH (Energi Robbani/Samawi), dan Sunnatullah itu adalah suatu cara (sistem dan teknologi)  milik Allah yg satu2nya di alam raya ini, yg tidak mungkin bisa diduplikasi oleh manusia atau domainnya diambil alih.

 

URUSAN ALLAH (KALIMATULLAH) yg begitu SEMPURNA itu hanya bisa digelar dg infastruktur yg mumpuni yaitu makhluk ciptaanNya sendiri (manusia) yg Dia pilih sendiri, bukan "makhluk" buatan (produk) manusia yg bagi Allah itu sangat naif dan rendah, misalnya kertas (buku), mesin atau gadget.

 

Makhluk ciptaan ("produk") Allah itu memiliki tiga spesifikasi keSEMPURNAan yg tidak akan pernah didapati pada makhluk buatan manusia sampai kapanpun, yaitu :

 

1. HIDUP dan TUMBUH.

Pada awal launching (lahir/muncul di bumi), kondisinya sederhana, kecil, lemah, rawan dsb. Kemudian dari waktu ke waktu semakin membesar, makin kokoh kuat, makin perkasa, makin berkualitas da berdayaguna. Sedangkan produk (buatan) manusia itu sebaliknya. Pada saat launcing itulah kondisi terbaiknya. Dari waktu ke waktu kualitas dan kinerja/kebergunaannya semakin menurun, usang, rusak dan malah jadi beban tak berguna (rongsokan).

 

2. BERMETAMORFOSIS.

Sosok, tampilan dan citranya berubah, semakin bagus, makin elok, semakin tampil kesejatian pesonanya. Sebaliknya dg "makhluk" produk manusia. Kian hari kian lusuh dan kumuh, pesonanya kian memudar.

 

3. "AUTO REPRODUKSI" alias berkembang biak.

Untuk menciptakan ("memproduksi") manusia yg bermiliar2 itu, Allah lakukan dg satu "proses produksi" saja sampai terciptanya sepasang lelaki dan perempuan. Setelah itu Allah tinggal "duduk manis" di "singgasana" milikNya ('Arasy), dan manusia itu terus berkembang biak turun temurun sepanjang masa.

 

 Sedangkan manusia...? Klo butuh dua ya dua proses produksi harus dijalankan. Butuh seribu, ya seribu proses juga. Tidak memproduksi lagi, tidak ada produk lagi, punah. Produk manusia itu tidak bisa berreproduksi, produsennyalah yg harus memprodoksi ulang.

 

Allah memandang dari singgasananya dg senyum dan bergumam : "Bodoh banget sih kamu, udah bodoh zalim lagi". Ya..,  sangat bodoh dan sangat zalim, begitulah menurut Allah

                                       ... إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومٗا جَهُولٗا

...Seungguhnya, manusia itu sangat zhalim dan sangat bodoh, (Al Ahzab : 72)

 

Kebodohan dan kezaliman paling parah adalah ketika mereka pikir bahwa Allah itu banyak maunya banyak butuhnya. Ingin dusuguhi, butuh dibela, dan merekalah (manusi) yg punya kemampuan untuk menyuguhi dan memenuhi keinginan dan kebutuhan Allah itu.

 

Mereka pikir bahwa Allah itu sebodoh mereka, bahkan mereka merasa lebih pintar dan lebih bijak dari Tuhan, sehingga konsep, kebijakan dan petunjukNya mereka "perbaiki", mereka ubah2, bahkan mereka ganti sama sekali dg buatan dan cara mereka sendiri. Maka "streaming" petunjuk/risalah Allah di bumi pun mereka MATIKAN alias mereka "SHUT DOWN". Allah menyebut aksi mematikan (shut down) streaming program Allah di bumi ini dg ungkapan : "mereka membunuh Nabi2".

 

Allah mengungkapkan murkaNya atas anggapan dan tindakan/aksi seperti itu dg KalamNya :

 

لَّقَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ فَقِيرٞ وَنَحۡنُ أَغۡنِيَآءُۘ سَنَكۡتُبُ مَا قَالُواْ وَقَتۡلَهُمُ ٱلۡأَنۢبِيَآءَ بِغَيۡرِ حَقّٖ وَنَقُولُ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ

 

Allah benar2 mendengar perkataan orang2 yang mengatakan : “Allah itu "faqir" (= punya banyak kebutuhan dan tak mampu memenuhi) sedangkan kami "aghniyaa” (=berkecukupan, bisa memenuhi apa yg Allah mau dan butuhkan). Kami akan catat perkataan mereka itu dan juga kelakuan mereka "membunuh" nabi2 tanpa hak (ilegal), dan Kami akan katakan : “Rasakanlah azab yang membakar!” (NERAKA)(Ali 'Imran : 181)

 

Sikap dan tindakan bodoh manusia itu mungkin saja didasari hasrat mengabdi dan berbuat banyak untuk Allah ("ibadah") tapi mereka tidak mengenal dan memahami sebagaimana mestinya tentang URUSAN yg sedang Allah gelar di bumi ini serta cara/sistem ("teknologi") yg Allah gunakan dalam menggelar urusanNya itu, sehingga tanpa disadari tindakan dan perilaku mereka malah bikin kerusakan dan antagonis dg Urusan Allah tadi.

 

Fenomena tsb disebabkan "agama Islam" yg diajarkan/dipelajari manusia selamat berabad2 ini bukan lagi PETUNJUK yg Allah TURUNKAN, melainkan (diganti dg) ILMU yg dikarang para ulama dari jaman dahulu sampai sekarang.

 

Makhluk Allah yg berwujud fisik (jismiyyah) hidup dan tumbuhnya mempunyai batas limit (ajal/kematian). Tapi keberadaan makhluk2 tsb terus berlanjut silih berganti dg kelahiran (reproduksi) turun temurun. Adapun makhluk ("karya") Allah yg tak berwujud (ruuhiyyah) berupa "soft ware/aplikasi" yg Allah sebut "KALIMAH" / "KALIMATULLAH" / "KALIMATU ROBBIK" yg Allah nyatakan SEMPURNA, satu ciri kesempurnaannya itu hidup dan tumbuhnya terus menerus tanpa batas dan tak pernah diam membeku (stagnan).

 

Allah menggambarkan pertumbuhan terus menerus itu dg ungkapan "puncaknya di langit", dg perumpamaan suatu pohon yg baik (SYAJAROH THOYYIBAH)

 

أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا كَلِمَةٗ طَيِّبَةٗ كَشَجَرَةٖ طَيِّبَةٍ أَصۡلُهَا ثَابِتٞ وَفَرۡعُهَا فِي ٱلسَّمَآءِ

 

Tidakkah kamu melihat (dg nalarmu) betapa Allah telah membuat perumpamaan bahwa KALIMAH (konsep/ajaran) yang baik itu ibarat pohon yang baik, akarnya kokoh (di bumi), pucuknya DI LANGIT (di ketinggian tak terhingga) (Ibrahim : 24)

 

Di antara (turunan) karya cipta Allah yg non fisik (immateri) yg Allah sebut KALIMATULLAH itu, adalah NUBUWWAH (kenabian) dan AL KITAB yg berfungsi sebagai bimbingan/panduan hidup manusia di dunia, agar mereka SELAMAT di akhirat.

 

Allah mengolah/memproses konsep kenabian dan al kitab itu selama ribuan tahun pada media yg kompatibel untuk itu yakni diri (jiwa) para nabi mulai ADAM sampai MUHAMMAD, yg semuanya adalah manusia biasa (makhluk jismiyyah) yg usianya terbatas dan suatu saat meninggal dunia (wafat).

 

Tapi kenabian (nubuwwah) dan al kitab yg terinstal pada jiwa mereka adalah berjenis RUH (soft ware) yg hidup terus dan terinstal kembali pada diri nabi berikutnya. Seiring estafeta para nabi itulah Allah meng-up date dan meng-up date terus soft ware nubuwah dan al kitab itu hingga sampai ke titik SEMPURNA pada kenabian Muhammad Rosulullah sebagai "khotaman-nabiyyin" (penutup nabi2).

 

Eksistensi Nabi2/Rosul itulah yg Allah jadikan media streaming (gelaran) petunjukNya bagi manusia. Bukan berupa kertas, buku atau mesin (gadget) buatan manusia, dan bukan pula kaum elit tertentu dari manusia itu sendiri. Begitulan Sunnatullah (cara/teknologi) Allah yg tidak akan pernah berubah/berganti sepanjang masa.

 

Agama Allah sebagai petunjuk dariNya itu Allah sebut juga sebaga CAHAYA TERANG yg MENERANGI.

 

        يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَكُم بُرۡهَٰنٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكُمۡ نُورٗا مُّبِينٗا

Hai manusia,  benar2 telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, dan telah Kami turunkan kepadamu CAHAYA YG NENERANGKAN. (An Nisa' : 174)

 

Kemudian  Nabi/Rosul yg Allah perankan sebagai "media streaming" bimbingan dan petunjuk-Nya, Allah sebut  sebagai : LAMPU PEMANCAR CAHAYA

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ شَٰهِدٗا وَمُبَشِّرٗا وَنَذِيرٗا . وَدَاعِيًا إِلَى ٱللَّهِ بِإِذۡنِهِۦ وَسِرَاجٗا مُّنِيرٗا

Hai Nabi,  Sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai SAKSI, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan sebagai penyeru ke (jalan) Allah dengan IZIN-Nya dan sebagai LAMPU pemancar cahaya. (Al-Ahzab : 45, 46)

 

Jelaslah bahwa hanya Nabi yg Allah jadikan SAKSI atas kemusliman seseorang, hanya nabi yg punya IZIN berdakwah (menyeru) ke Jalan Allah, dan hanya Nabi yg dijadikan LAMPU pemancar cahayaNya.

 

Memang cahaya itu hanya bisa ada jika ada sesuatu yg mengeluarkan /memancarkannya, antara lain "lampu". Ketika lampu itu mati maka cahaya itupun padam, gelap gulita, "mati lampu"

 

Allah mengingatkan bahwa orang2 bodoh tapi ambisius itu ingin MEMADAMKAN CAHAYA ALLAH.

 

يُرِيدُونَ لِيُطۡفِـُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ

Mereka ingin memadamkan Cahaya Allah dengan mulut2 (narasi) mereka, tapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang2 kafir membencinya. (Ash Shaf : 8)

 

"Mulut2" (narasi) yg mereka gunakan untuk memadamkan cahaya Allah (mematikan lampu, "membunuh nabi2") adalah berupa hoax yg berbunyi "tidak akan ada lagi Nabi/Rosul sampai hari kiyamat". Inilah hoax yg menggelapkan petunjuk Allah selama belasan abad.

 

Memang benar bahwa penbentukan ("pencetakan") Nabi2 dan pengembangan "aplikasi" NUBUWWAH telah Allah lakukan tuntas (khatam) dan sempurna selama rentang zaman antara Adam sampai Muhammad. Setelah itu Allah pun "duduk manis", tidak lagi mengolah pengembangan nubuwwah, tidak lagi mencetak nabi2.

 

Tapi Allah itu kan tidak sebodoh manusia. Estafeta para Nabi yg Allah jadikan media pengembangan NUBUWAH dan AL KITAB itu tidak seperti halnya Universitas buatan manusia tempat pengembangan ilmu pengetahuan dan pencetakan sarjana. Jika tidak ada lagi Universitas di muka bumi dan tidak ada lagi proses pencetakan sarjana, maka keberadaan Sarjana itupun suatu saat akan punah.

 

Disinilah kezaliman manusia yg paling besar (ظُلۡمٌ عَظِيمٞ ), Menganggap Allah sebodoh mereka, merasa dirinya mampu menggantikan cara Allah yg mereka anggap sudah mentok.

 

Karya (makhluk) Allah yg bersifat fisik (jismiyah) itu memiliki tiga ciri kesempurnaan yaitu : TUMBUH BERKEMBANG, BERMETAMORFOSIS dan  BERREPRODUKSI. Pertumbuhannya berbatas limit, tapi keberadaannya berlanjut terus dg berreproduksi.

 

Adapun kayra Allah yg non fisik (soft ware) dan terinstal pada jiwa manusia, (antara lain Al Kitab dan Nubuwah) pertumbuhan dan metamosfosisnya TANPA LIMIT, streamingnya berkelanjutan dg cara menginstal kembali (reinstalling) secara otomatis ketika ada (muncul) jiwa manusia yg kompatibel.

 

وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحٗا وَإِبۡرَٰهِيمَ وَجَعَلۡنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا ٱلنُّبُوَّةَ وَٱلۡكِتَٰبَۖ فَمِنۡهُم مُّهۡتَدٖۖ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ

Dan sungguh  Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan pada KETURUNAN keduanya kenabian dan al kitab, di antara mereka ada yang mengikuti petunjuk (bertakwa) dan banyak di antara mereka yang FASIK. (Al Hadid : 26)

 

Setiap makhluq bernyawa pasti mengalami mati, tak terkecuali nabi dan rosul. Tapi soft ware (aplikasi ruhiyah) yg terinstal pada diri2 mereka, yg Allah sebut juga "ADZ DZIKRU" (ajaran), tetap hidup dan terjaga kelestariannya dlm penyimpanan/penjagaan Allah.

 

                              إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

Sesungguhnya Kami telah yang menurunkan adz dzikra, (Al Quran) dan Kami benar2 menjaganya (tetap hidup lestari). (Al Hijr : 9)

 

Dengan demikian kenabian dan kerosulan yg merupakan "aplikasi" karya Allah itu tidak akan PUNAH. Yg mungkin terjadi itu FATRAH (terputus) penayangan (streaming)-nya di bumi, sebagaimana yg terjadi di masa ini, tapi tetap dimungkinkan eksis/tayang kembali kapan saja.

 

Kondisi FATRAH itu terjadi selama STREAMING bimbingan dan petunjuk Allah di bumi ini padam (off) karena keberadaan Rosul yg dilanjutkan dg Kholifatu`r Rosul yg berperan sebagai "Siroojan Muniiroo" (lampu pemancar cahaya) itu terputus (maka gelaplah) dan tidak (belum) muncul lagi pengganti yg melanjutkan tayangan (steaming)nya itu.

 

Kondisi fatrah ini terjadi bukan disebabkan kebijakan Allah tidak mengutus/memunculkan lagi seorang Rosul, melainkan suatu keniscayaan (by system), yaitu tak kunjung hadir (muncul) seseorang yg jiwanya kompatibel untuk al kitab dan nubuwah yg tetap hidup itu menginstal kembali ("reinstalling") pada dirinya.

 

Namun walau bagaimanapun, dalam keadaan fatrah tsb tidak lantas sistem streaming petunjuk Allah berganti dg cara (modus) yg lain atau kembali kepada srstem/konsep/ajaran buatan manusia.

 

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُۚ أَفَإِيْن مَّاتَ أَوۡ قُتِلَ ٱنقَلَبۡتُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡۚ وَمَن يَنقَلِبۡ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيۡـٔٗاۚ وَسَيَجۡزِي ٱللَّهُ ٱلشَّٰكِرِينَ

Muhammad hanyalah seorang Rosul, sebelumnya telah berlalu beberapa rosul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu lantas putar balik  (kembali menyembah berhala, berpetunjuk dari selain Allah)? ... (Ali Imran : 144)

 

Kondisi fatrah dimana kalangan elit "ilmu agama" ini Allah sebut Ahlul Kitab, akan berujung pada munculnya kembali seorsng rosul, bukan yg lain.

 

يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ قَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمۡ عَلَىٰ فَتۡرَةٖ مِّنَ ٱلرُّسُلِ أَن تَقُولُواْ مَا جَآءَنَا مِنۢ بَشِيرٖ وَلَا نَذِيرٖۖ فَقَدۡ جَآءَكُم بَشِيرٞ وَنَذِيرٞۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ

 

Hai Ahli Kitab, sungguh telah datang kepadamu Rasul Kami, memberi kejelasan kepadamu pada masa terputus (FATRAH)nya rasul2, agar kamu tidak mengatakan, “Tidak ada yang datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.” Sungguh, telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dan Allah Maha Menakar (menetapkan qadar) atas segala sesuatu. (Al Ma'idah : 19)

 

Tak kunjung munculnya itu bukan atas kebijakan Allah, melainkan faktor qodary (system) dimana kriteria/syarat utama terinstalnya al kitab dan nubuwah itu adalah  diri/jiwa yg Allah sebut "UMMIYYIIN", yg secara harfigah artinya BUTA HURUF.

 

هُوَ ٱلَّذِي بَعَثَ فِي ٱلۡأُمِّيِّـۧنَ رَسُولٗا مِّنۡهُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ

Dialah yang membangkitkan seorang Rasul DI KALANGAN orang2 yg buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang mewacanakan kepada mereka ayat2-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, sedangkan keadaan mereka sebelum itu, tak lain adalah benar2 dalam kesesatan yang nyata. ) Al Jumu'ah : 2)

 

                 وَءَاخَرِينَ مِنۡهُمۡ لَمَّا يَلۡحَقُواْ بِهِمۡۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

Dan (Dia membangkitkan Rosul juga) di kalangan kaum (buta huruf) lainnya yang belum berhubungan (terkoneksi) dengan mereka. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (Al Jumu'ah : 3)

 

Ada lagi seseorang (apalagi kaum) yg buta huruf dlm arti harfiyah, di zaman peradaban manusia pasca Muhammad Rosulullah ini nyaris mustahil. Karena Allah telah menetapkan dalam Sunnah-Nya (Sunnatullah) bahwa Dia mengajari (mengembangkan ilmu) pada manusia itu dg PENA (melalui budaya tulis menulis).

 

                      ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ . عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ

Yang mengajari (manusia) dengan pena.

Dia mengajari manusia apa yang ia belum ketahui. (Al 'Alaq : 4,5)

 

Tapi sekali lagi Diinul Islam itu BUKAN ILMU melainkan PETUNJUK DARI ALLAH ("Minnii Hudan"). Ilmu itu memang didapat dan dikembangkan manusia melalui budaya tulis-baca, sedangkan petunjuk Allah itu suatu "aplikasi Robbani" berupa Nubuwwah dan Al Kitab yg Allah instalkan dan sekaligus tayangkan pada sosok manusia biasa yg UMMIY.

 

Allah menurunkan Al Kitab itu bukan dalam bentuk tulisan, melainkan berupa "soft ware" (ruh) yg diwahyukan dan langsung terpasang di hati, tanpa yg bersangkutan harus membaca tulisan.

 

نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ . عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِين

Yang dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Ruh yg kredibel), ke dalam hatimu agar kamu termasuk orang yang memberi peringatan, (Asy Syu'ara : 193,194)

 

Orang yg terinstal pada dirinya nubuwah dan Al Kitab itu  kemudian Allah sebut Nabi/Rosul, lalu orang2 beriman yg ingin mengikuti petunjuk Allah itu tinggal mengikuti dan dan mentaatinya, dan untuk itu siapapun bisa melalukannya tanpa harus "berilmu".

 

Hanya dengan cara itulah (kiprahnya seorang Rosul mengemban missi/risalah) streaming-nya petunjuk Allah, terpancarnya Cahaya Allah. Suatu cara ("teknologi") Allah (Sunnatullah) yg tidak akan pernah berubah atau berganti selamanya, karena pengembangannya sudah sampai pada titik SEMPURNA.

 

Tetapi sebagaimana yg Allah nyatakan : "Mereka ingin memadamkan Cahaya Allah dg mulut2 mereka", maka streaming petunjuk Allah itu, atau lampu pemancar Cahaya Allah itu mereka matikan (shut down), maka gelaplah kehidupan manusia dari cahaya petunjuk Allah. Allah menyebut tindakan tsb dg ujaran (kalam) : "MEREKA MEMBUNUH NABI2".

 

Mereka menganggap "tehnik" penciptaan yg Allah lalukan itu senaif cara manusia. Yaitu : jika tidak ada lagi perguruan tinggi yg mencetak Sarjana, maka tidak akan ada lagi sarjana baru, dan suatu saat Sarjana itu akan punah. Senaif manusia itulah anggapan mereka ttg cara Allah mencetak Nabi2

 

Allah hanya menyatakan bahwa proses pengembangan "aplikasi" kenabian dan al kitab yg berlangsung ribuan tahun dari generasi ke generasi itu telah selesai tuntas (KHATAM) dan sempurna pada kenabian MUHAMMAD ROSULULLAH, maka Allah sebut Muhammad itu "Khotaman Nabiyyin" (Penutup tuntas Nabi2).

 

Tentu saja para Nabi yg manusia biasa itu, yg Allah pilih untuk dijadikan "gadget" pada streaming petunjukNya itu wafat dan wafat pada saatnya masing2. Tapi aplikasi Robbani berupa kenabian dan al kitab (yg Allah sebut juga ADZ DZIKRA) yg sifatnya ruuhiyyah (soft ware) yg terinstal pada diri mereka itu Allah simpan, jaga dan lestarikan, dengan tetap hidup, tumbuh dan bermetamorfosis, sebagai sifat kesempurnaan Karya Allah.

 

Sejatinya setiap saat bisa otomatis terinstal kembali manakala ada hati/jiwa manusia yg kompatibel untuk itu yakni UMMIYYIIN, orang2 "buta huruf", yg dalam makna aplikatif operatif : BEBAS (buta) LITERASI. Tidak ada syarat lainnya kecuali "ummiyyiin" itu.

 

Literasi atau "jejak pena" itu Allah jadikan media/sarana pengembangan ilmu pengetahuan, dan semua jejak pena (literasi) itu adalah ide, karya, buah pikiran dan kreatifitas manusia. Sedangkan Petunjuk dari Allah yg Dia turunkan kedalam hati2/jiwa manusia yg Dia sebut "Adz Dzikru" (ajaran) itu sama sekali bukan berupa fisik materi melainkan berupa Aplikasi Ruhiyyah yg hanya mungkin tumbuh mengonsepsi (membuah) pada jiwa nanusia tanpa tercampuri (ter-distorsi) oleh seditpun buah pikiran (campur tangan) manusia lm perumusan petunjuk tsb.

 

Allah menyebut manusia berjiwa bersih sedemikian itu dg sebutan : 'IBAADALLAHI`L MUKHLASHIIN", hamba2 Allah yg DIMURNIKAN, satu2nya segmen manusia yg selamat dari tipuan Iblis, selamat dari KETERSESATAN.

 

قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ . إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ

 

Ia (Iblis) berkata, “Tuhanku, karena telah Engkau tetapkan bahwa aku sesat, pasti akan aku hiaskan (pasang hiasan) bagi mereka di bumi, dan (dg itu) aku akan sesatkan mereka semuanya,

kecuali hamba2-Mu yang MUKHLASHIIN (dimurnikan) diantara mereka.” (Al Hijr : 39-40)

 

                                إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ

Kecuali hamba2 Allah yang dimurnikan, (Ash Shaffat : 40, 74, 128, 160)

 

Berulang kali Allah mengingatkan bahwa manusia yg bisa selamat, tidak tertipu oleh "hiasan" yg dipasang iblis itu hanya "hamba2 Allah yg DIMURNIKAN" (عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ).

 

Selaras dg kriteria "Ibaadallahi`l Mukhlashiin" tsb berulang kali Allah jelaskan bahwa setiap Rosul mengakses petunjuk dari Allah itu hanya dg mentafakkuri fakta2 dan fenomena kehidupan yg ia saksikan dan rasakan (bebas literasi), dan Itulah yg Allah sebut AL HIKMAH. Kemudian ia padukan dg memori Kalamullah yg ada pada dirinya (AL KITAB). Orang2 yg menjalankan metode pembentukan konsepsi ("Kalimah") secara demikian itulah yg Allah sebut ULUL ALBAAB (pengguna akal murni), identik dg "UMMIYYIIN"

 

Dengan metode itu pulalah bisa mengidentifikasi dan mengeliminasi anasir2 fiktif yg terpasang (dipasang orang) pada sistem PetunjukNya itu, maka jiwanya bersih dari anasir fiktif tsb, itulah "Ibadallahi`l Mukhlashiin", hamba2 Allah yg dimurnikan.

 

Untuk melakukan langkah tsb dan meraih kondisi MUKHLASHIN inilah penegasan dari Allah berikut :

 

        وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ..

Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar mengabdi kepada Allah dg MEMURNIKAN agama-Nya secara bersih dan lurus (hanif).. (Al Bayyinah : 5)

 

Tapi alih2 menjalankan arahan dan petintah Allah, mereka malah mengambil langkah antagonis diametral, sebagaimana yg Allah nyatakan :

 

وَاِنْ كَانُوْا لَيَقُوْلُوْنَۙ . لَوْ اَنَّ عِنْدَنَا ذِكْرًا مِّنَ الْاَوَّلِيْنَۙ . لَكُنَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ . فَكَفَرُوْا بِهٖۚ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ

 

Dan benar2 mereka mengatakan : "Kalau saja ada pada kami suatu AJARAN DARI ORANG2 DAHULU (ذِكْرًا مِّنَ الْاَوَّلِيْنَۙ), sungguh kami akan menjadi "hamba2 Allah yg dimurnikan" (عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ)". Maka merekapun KAFIR pada (Al Quran/petunjuk)-Nya, maka kelak mereka akan mengetahui. (Ash Shoffat : 167-170)

 

Begitulah yg terjadi, terma عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ hanya jadi halusinasi, khayalan. Setelah streaming petunjuk Allah di bumi di-shut down, lampu pemancar cahaya Allah (سِرَاجٗا مُّنِيرٗا) dipadamkan, Aplikasi Robbani berupa Al Kitab dan Nubuwwah pun diblokir, maka Petunjuk dari Allah itupun tidak tayang/streaming lagi, manusia terperangkap dlm KEGELAPAN.

 

Kemudian sebagaimana langkah kafir yg Allah ingatkan pada ayat di atas, Al Quran mereka ingkari, mereka gantikan dg "ilmu2 agama" (ulumuddin) yg dikarang dan diajarkan orang2 dahulu (dzikron minal awwaliin). Ilmu tauhid, ilmu fiqih, ilmu tafsir, ilmu hadits dllsb, semua itu 100% karangan manusia, ulama2 jaman dahulu. Padahal jangankan ijin untuk itu, sedikit isyarat saja yg membolehkannya dari Allah tidak ada. Yg ada malah warning untuk tidak membuat dan mengikutinya.

 

اَمْ لَهُمْ شُرَكٰۤؤُا شَرَعُوْا لَهُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا لَمْ يَأْذَنْۢ بِهِ اللّٰهُ ۗوَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۗوَاِنَّ الظّٰلِمِيْنَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Apakah mereka mempunyai (mengikuti) para  PENYEKUTU Allah yang membuat "syariat" bagi mereka dari agama ini, sesuatu yg TIDAK DIIZINKAN Allah? Kalau tidak karena konsep yang terperinci (bahwa segala sesuatu sudah ada ketentuannya) sungguh telah ditimpakan hukuman di antara mereka. Dan sesungguhnya orang2 zalim itu akan mendapat azab yang sangat pedih. (Asy Syuro : 21)

 

Maka selama belasan abad kaum muslimin di muka bumi ini tidak lagi mengikuti PETUNJUK DARI ALLAH, karena gelaran (streaming)-ya telah dimatikan. Mereka ganti dg ilmu2 agama (Islam) buatan manusia yg selama belasan abad membelenggu dan memberhala pada jiwa2 mereka. Tidak ada PETUNJUK yg diikuti. Masing2 orang berucap, berbuat dan bertindak menurut "ilmu" yg masing2 mereka miliki. Maka perselisihan dan terpecah belah yg sangat dimurkai Allah tak mungkin terhindarkan.

 

Sedangkan semua "ilmu2" tsb adalah buatan manusia yg tidak bisa membuat sesuatu yg hidup. Manusia hanya bisa membuat produk mati yg tidak tumbuh dan tidak bermetamorfosis, malah semakin lama semakin lapuk, basi dan beracun. Bigitulah semua buatan manusia yg untuk dikonsumsi dirinya.

 

Parahnya lagi, disebutnya "ilmu" tapi tidak sebagaimana ilmu pengetahuan (sains), dibangun berbasis fakta2 empiris dan pembuktian, melainkan hanya dg jelajah literasi. Dari opini ke opini, pernyataan demi pernyataan, katanya dan katanya, bahkan dg membekukan penalaran dan akal sehat, atas nana "iman"/"keyakinan"/"aqidah".

 

Allah menyebut semua itu sebagai "dzhonnu" (dugaan/persangkaan) dan "iftiroo"/"ikhtirosh" (mengada2), yg menyesatkan dan jauh dari kebenaran

 

وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗاِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ

Jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Karena yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah mengada2 kebohongan. (Al An'am : 116)

 

وَمَا يَتَّبِعُ اَكْثَرُهُمْ اِلَّا ظَنًّاۗ اِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِيْ مِنَ الْحَقِّ شَيْـًٔاۗ ....

Kebanyakan mereka hanya mengikuti persangkaan, padahal persangkaan itu tidak berguna sedikitpun untuk suatu kebenaran... (Yunus : 36)

 

PETUNJUK DARI ALAH (ajaran Islam) itu berbasis BUKTI2 NYATA (aayaatun bayyinaat) dan selalu mengaktifkan secara optimal PENGAMATAN, PERASAAN DAN PENALARAN (sam'a wal abshor wal af`idah). Sehebat apapun "katanya" itu dan kata siapapun manusia, bukanlah bukti kebenaran. Kebenaran (Al Haq) itu tidak berdasar kata siapapun selain "kata Allah" (Kalamullah) yg nyata adanya (bayyinah/"qoth'il wurud"), yg pasi selalu padu dan selaras dg fakta2 (up to date) sepanjang masa.

 

Sedikit sekali konten Al Quran yg digunakan dalam menyusun "ilmu agama". Itupun sebenarnya bukan dari sejatinya Al Quran melainkan dari "tafsir"-nya yg buatan manusia, yg sifatnya dzhonnu dan nisbi yg tidak bisa berumur panjang karena apapun buatan manusia itu suatu saat akan menjadi usang/kedaluwarsa. Yg disebut "al quran"-nya pun bukan Al Quran yg sebenarnya melainkan hanya semcam "screen shot" dari tayangan Al Quran di masa tayangnya dahulu. Allah menyebut yg demikian itu "SUHUF", dan banyak orang menyebutnya MUSHAF.

Maka "ber-quran" secara demikian Allah sebut sebagai PEMBOHONGAN, karena Al Quran yg sejatinya itu tidak kemana2, tetap di LAUH MAHFUDZH. Al Quran itu "Aplikasi Robbani" berupa soft ware, bukan hard ware.

 

بَلِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِيْ تَكْذِيْبٍۙ . وَّاللّٰهُ مِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ مُّحِيْطٌۚ . بَلْ هُوَ قُرْاٰنٌ مَّجِيْدٌۙ . فِيْ لَوْحٍ مَّحْفُوْظٍ

 

Tapi orang2  kafir itu dalam kebohongan, dan Allah pun meliput dari bekang nereka, karena sejatinya dia (Al Quran itu) suatu bacaan yg mulia, (yg ada) di Lauh Mahfudzh (bukan yg tertulis di kertas). (Al Buruj : 19-22)

 

Celakanya, ajaran yg 100% produk manusia belasan abad lalu itu di-branding dg Nama Allah, Agama Allah, Agama Langit, diklaim sebagai aturan hukum (syari'at) dari Tuhan Pemilik dan Penguasa Alam Semesta, ditenagai dg "Ruh Robbani" yg disebut AKIDAH dan JIHAD, sehingga menuntut seluruh manusia untuk tunduk mengimani. Orang2 yg munolak dan mengingkarinya dicap kafir, musuh Allah yg wajib diperangi dan halal dibunuh. Bahanya tuh disini.

 

Dengan demikian semua bentuk narasi dan aksi dibalik label "Islam" di muka bumi ini adalah kepalsuan yg ilegal. Urusan Allah (gelaran petunjukNya) di bumi ini sudah belasan abad SHUT DOWN alias TUTUP (fatrah), ditarik lagi ke langit sapai tiba "HARI ALLAH" berikutnya, yaitu kehidupan di bumi kembali diterangi CAHAYA ALLAH, yg utuk itu butuh waktu seribu tahun

 

يُدَبِّرُ الْاَمْرَ مِنَ السَّمَاۤءِ اِلَى الْاَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗٓ اَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوْنَ

 

Dia (Allah) menggelar urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik (kembali) kepada-Nya dalam "satu hari" (satu siklus gelap dan terang) yang kadar lamanya itu SERIBU TAHUN menurut perhitunganmu. (As Sajdah : 5)

 

Ketika streaming urusan Allah ("tadbiirul amri") di bumi ditarik lagi ke langit, maka "urusan" tsb tidak ada di bumi lagi. Dg demikian semua produk yg "dipasarkan" dg label "Allah" adalah produk tiruan alias palsu. Sedangkan memalsukan produk dan memasarkannya itu adalah tindakan kriminal (kezhaliman).

 

Saya akhiri sampai disini dulu tulisan ini. Insyaallah akan disusul tulisan berikutnya dg tajuk : DG DIGELAPKANNYA AKSES KE "LANGIT MAYA" BELASAN ABAD MANUSIA BER-ISLAM DI "DUNIA KHAYAL"

1 تعليقات

إرسال تعليق

أحدث أقدم