![]() |
| Perbedaan Petunjuk Dan Ilmu ALLAH |
DG "ILMU AGAMA" BUATAN MANUSIA PETUNJUK ALLAH TERGELAPKAN.
PROLOG:
Untuk ukuran medsos tulisan ini
sangat panjang sekali, mungkin akan capek dan jemu membacanya. Tapi bagi anda
yg percaya dan ingin SELAMAT DI AKHIRAT, tulisan ini sangat penting sekali untuk
dibaca. Maka disarankan agara postingan ini disimpan atau dikopas pada media
off lline agar bisa dibaca berangsur di kala senggang.
______________.........
Tidak ada sepotongpun ayat yg
menyatakan bahwa Al Quran itu ILMU, melainkan PETUNJUK.., PETUNJUK.. dan
PETUNJUK ( ... هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ ... )
ILMU dan PETUNJUK itu dua hal yg
sangat sangat berbeda sekali.
ILMU itu adalah pengetahuan
tentang seluk beluk mengenai apa yg Allah CIPTAKAN (apa yg ADA dan TERJADI).
Sedangkan PETUNJUK itu adalah keterangan tentang tata cara, tahapan/prosedur
melakukan sesuatu usaha untuk maksud/tujuan tertentu. Atau petunjuk itu bisa
pula berupa sesuatu (benda atau fenomena) yg mengindikasikan sesuatu yg ingin
diketahui.
ILMU itu PERMANEN dan abadi
karena tidak ada perubahan pada penciptaan yg Allah lakukan (.... لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ
ٱللَّهِۚ ...). Sedangkan
PETUNJUK itu kondisional, situasional, temporal.
Contoh :
Pada temperatur seberapa air
berubah menjadi es (membeku)..? Sejak zaman Nabi Adam sampai kapanpun dan
dimana2pun sama. Kemudian orang menyebutnya "titik beku air" itu 0°C. Begitulah ILMU.
Bagaimana cara membeli tiket
kereta api..? Bagaimana cara mdapatkan KTP..? di berbagai tempat dan zaman
berbeda2.. Begitulah PETUNJUK
Maka (yg benar2) ILMU itu tidak
pernah usang, sedangkan PETUNJUK bisa kadaluwarsa atau tidak relevan atau
bahkan tidak berlaku. Dengan begitu ketika suatu PETUNJUK statusnya diubah
menjadi ILMU adalah suatu penggelapan, antara lain menggelapkan aspek relevansi
dan kadaluwarsa.
ILMU itu harus "dibeli"
(butuh biaya untuk mendapatkan atau membagikannya), sedangkan petunjuk itu
gratis. Produk berharga mahal sekalipun, buku petunjuk (manual)-nya mah gratis.
Maka manusia yg menyampaikan PETUNJUK ALLAH itupun tidak minta UPAH (.... لَّا
يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا...), untuk mendapatkan
petunjuk Allah itupun tak butuh biaya dan waktu yg lama, bisa diperolah
seketika dan tanpa biaya.
Ketika seseorang mendapat suatu
ILMU, maka ilmu itu jadi miliknya (sebagai hasil usahanya) mau ia gunakan untuk
apapun, mau ia "jual", atau tidak digunakan sekalipun, adalah haknya.
Karena setiap orang punya otoritas (hak mutlak) atas apapun yg merupakan
miliknya.
Sedangkan petunjuk itu mau tidak
mau harus digunakan (diikuti/dipatuhi) tanpa sanggahan jika seseorang ingin
mencapai apa yg dia tuju, Tapi petunjuk itu tidak menjadi milik penggunanya,
tetap pada posisi dan statusnya, tetap dalam domain pihak yg membuatnya. Jika
suatu petunjuk diotak atik atau diubah2 oleh penggunanya, pasti kacau jadinya.
Legalitas dan efektifitas (kebergunaannya) hilang. Tidak bisa lagi disebut
sebagai petunjuk dari Sang Pemilik apa yg ingin dituju oleh pengguna petunjuk
tsb.
Ketika suatu petunjuk ada yg
mengubah sebutannya menjadi ILMU, tercium aroma negatif yg patut dicurigai.
Misalnya seserorang mengatakan : "saya punya ilmu untuk mendapatkan
KTP". Nah lho.. jangan2 ada cara instan ilegal yg ia mau jual atau ia mau
menipu dg membuat KTP palsu.
Selain biaya, untuk mendapatkan
ilmu itu manusia butuh waktu yg sangat lama bahkan SEPANJANG MASA. Penggalian
ilmu yg dilakukan oleh satu generasi manusia di satu zaman adalah kelanjutan
dari penggalian dan penemuan generasi di zaman sebelumnya dan akan terus
dilanjutkan oleh generasi2 berikutnya. Kemudian setiap individu manusia
masing2 harus berkerja keras dan butuh
waktu yg lama untuk bisa mendapatkan ilmu tsb.
Tidak demikian halnya dg
PETUNJUK. Petunjuk itu simpel dan sederhana,
mudah dipahami, bisa didapat lewat apa saja atau siapa saja, bahkan
orang yg butahuruf sekalipun. Untuk mengikuti petunjuk itupun mudah. Tidak
butuh kepintaran atau ketinggian ilmu. Yg dibutuhkan hanya "percaya"
(iman) bahwa petunjuknya itu BENAR dan LEGAL (sah) untuk diikuti, lalu diikuti
dan dipatuhi secara benar dan konsisten (hanif).
Di tengah perjalanan manusia
menjalani kehidupan dunia dg berbekal ILMU yg mereka gali/ekxplorasi, Allah
mengingatkan adanya kehidupan di luar domain ilmu mereka, yaitu kehidupan
akhirat yg abadi, seraya menawarkan PETUNJUK-Nya untuk SELAMAT di akhirat itu
dari azab yg pedih dan meraih surga yg merupakan kristalisasi, akumulasi dan
pengutuban segala bentuk kebaikan, kenikmatan, kedamaian dan kebahagiaan
("Wajah Allah").
... هَلۡ أَدُلُّكُمۡ
عَلَىٰ تِجَٰرَةٖ تُنجِيكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ
.... Maukah Aku tunjuki kamu
suatu perniagaan untuk menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Ash-Shaf : 10)
.... أَؤُنَبِّئُكُم
بِخَيۡرٖ مِّن ذَٰلِكُمۡۖ لِلَّذِينَ
ٱتَّقَوۡاْ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتٞ
.....
... Maukah kamu aku kabari
sesuatu yang lebih baik dari yang demikian itu (kesenangan dunia) Bagi orang2
yang BERTAKWA (mengikuti petunjukNya) di sisi Tuhan mereka ada SURGA .... (Ali
'Imran : 15)
Pada saat Adam dilepas ke bumi
Allah menjanjikan (memberi harapan) kepadanya bahwa suatu saat nanti akan ada
petunjuk DARI ALLAH dan MILIK ALLAH untuk mencegah/menghindari apa2 yg
menakutkan dan atau menyedihkan, alias SELAMAT.
... فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم
مِّنِّي هُدٗى فَمَن تَبِعَ
هُدَايَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ
وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ
.... Jika benar-benar datang
kepadamu petunjuk DARI AKU, maka barangsiapa mengikuti PETUNJUKKU, tidak ada
rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati (SELAMAT)". (Al
Baqarah : 38)
Petunjuk DARI ALLAH dan MILIK
Allah itulah yg memberi harapan KESELAMATAN bagi manusia. BUKAN dari dan milik
siapapun selain Allah.
Petunjuk Allah untuk memandu
kehidupan manusia sepanjang masa sampai hari kiyamat itu, Allah mempersiapkan,
merumuskan dan mengolahnya selama ribuan tahun pada "media" yg Dia
pilih sendiri dari antara makhluk ciptaanNya yakni para Nabi/Rosul.
Pada diri2 Nabi/Rosul itulah
Allah memproses dan sekaligus menstreaming/menayangkan pentunjukNya itu, bukan
pada media lain berupa apapun buatan manusia, misalnya kertas (buku), mesin
atau gadget.
فَإِنَّمَا
يَسَّرۡنَٰهُ بِلِسَانِكَ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ
Sesungguhnya Kami memudahkan
(memfasilitasi)-nya (al kitab [petunjukKu]) itu HANYA dengan LISANmu (rosul)
agar mereka dapat mengambil pelajaran. (Ad Dukhan : 58)
فَإِنَّمَا
يَسَّرۡنَٰهُ بِلِسَانِكَ لِتُبَشِّرَ بِهِ ٱلۡمُتَّقِينَ وَتُنذِرَ
بِهِۦ قَوۡمٗا لُّدّٗا
Sesungguhnya Kami memudahkan
(memfasilitasi)-nya (al kitab [petunjukKu]) itu HANYA dengan LISANmu agar
dengan itu kamu dapat memberi kabar gembira kepada orang2 yang bertakwa, dan
agar kamu dapat memberi peringatan kepada kaum yang membangkang. (Maryam : 97)
إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٖ كَرِيمٖ
Sesungguhnya ia (Al Kitab
[petunkKu]) itu benar2 (tersampaikan melalui) perkataan seorang Rasul yang
mulia (Al Haqqah : 40)
Allah merumuskan (mensyari'atkan)
serta meng-update dan meng update terus sampai ke titik SEMPURNA sekaligus
menstreaming petunjukNya itu selama ribuan tahun lewat media diri2 nabi/rosul
sejak Nabi Adam, sambung menyambung dari zaman ke zaman, generadi ke generasi
dan telah mencapai titik SEMPURNA (KHATAM) pada diri MUHAMMAD ROSULULLAH dg
men-streaming AL QURAN Kitabullah yg SEMPURNA tidak akan lagi mengalami
perubahan, penambahan ataupun penggantian.
وَتَمَّتۡ
كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدۡقٗا وَعَدۡلٗاۚ
لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ
Dan telah sempurna KALIMAH
(konsep/ajaran) Tuhanmu dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah2
(mengedit) KALIMAH-Nya itu .... (Al An'am : 115)
سُنَّةَ
مَن قَدۡ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ
مِن رُّسُلِنَاۖ وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا
تَحۡوِيلًا
Suatu SUNNAH (jalan/cara yg
dipilih) bagi orang yg Kami utus sebelum kamu, dan tidak akan kamu dapati
perubahan pada cara Kami itu. (Al-Isra' : 77)
..فَلَن
تَجِدَ لِسُنَّتِ ٱللَّهِ تَبۡدِيلٗاۖ وَلَن
تَجِدَ لِسُنَّتِ ٱللَّهِ تَحۡوِيلًا
....maka kamu tidak akan
mendapati pergantian pada Sunnatullah (sistem/cara Allah), dan tidak akan pula
kamu dapati perubahan bagi Sunnatullah itu. (Fathir : 43)
Begitu tegas, jelas dan berulang2
Allah nyatakan bawa petunjuk Allah itu digelar/ditayangkan (streaming) HANYA dg
satu cara (sistem) yaitu dihadirkanNya seorang Rosul dari kalangan mereka
sendiri (kalangan mereka yg Allah beri petunjuk). Pada diri Rosul itulah
terkemas (terinstal) petunjuk Allah, dan dengan mengikuti Rosul itulah
mengikuti petunjuk Allah. Cara yg satu2nya ini (Sunnatullah) tidak akan pernah
berganti atau berubah sepanjang masa.
Harapan yg Allah berikan (janji
Allah) kepada Adam saat dilepas ke bumi yg berbunyi :
... فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم
مِّنِّي هُدٗى فَمَن تَبِعَ
هُدَايَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ
وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ
.... Jika benar-benar datang
kepadamu petunjuk DARI AKU, maka barangsiapa mengikuti PETUNJUKKU, tidak ada rasa
takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati (SELAMAT)". (Al Baqarah :
38)
Wujud (realisasi) dari janji
Allah tsb adalah apa yg Allah tujukan kepada keturunannya (bani Adam) yaitu :
يَٰبَنِيٓ
ءَادَمَ إِمَّا يَأۡتِيَنَّكُمۡ رُسُلٞ
مِّنكُمۡ يَقُصُّونَ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتِي فَمَنِ ٱتَّقَىٰ وَأَصۡلَحَ
فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا
هُمۡ يَحۡزَنُونَ
Hai anak cucu Adam, jika datang
kepadamu rasul2 dari kalanganmu sendiri yang menceritakan ayat2-Ku kepadamu
(itulah petunjuk DARI AKu) maka barangsiapa bertakwa dan melakukan perbaikan
(barangsiapa mengikuti PETUNJUKKU) maka tidak ada rasa takut pada mereka, dan
mereka tidak bersedih hati (SELAMAT). (Al A'raf : 35)
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن
يُكَلِّمَهُ ٱللَّهُ إِلَّا وَحۡيًا
أَوۡ مِن وَرَآيِٕ حِجَابٍ
أَوۡ يُرۡسِلَ رَسُولٗا فَيُوحِيَ
بِإِذۡنِهِۦ مَا يَشَآءُۚ إِنَّهُۥ
عَلِيٌّ حَكِيمٞ
Dan tidak akan pernah ada
(terjadi) bagi seorang manusia bahwa Allah berbicara kepadanya (menyampaikan
kalamNya) kecuali dengan cara : (1) wahyu atau (2) ("chat") dari
balik hijab atau (3) dengan mengutus seorang Rosul lalu ia
"mewahyukan" kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Dia itu Mahatinggi, Mahabijaksana (itulah cara yg layak [bijak]
bagi Dia Yg Mahatinggi) (Asy Syura : 51)
Maka sia2 saja orang ingin
mendapat Kalamullah (petunjuk dari Allah) dg cara bereksflorasi dari buku ke
buku, dari pernyataan para tokoh besar, bersemedi menunggu mimpi atau pun
bereksflorasi di DUNIA MAYA karena Allah tidak pernah menempatkan
kalam/petunjuknya-Nya pada semua yg tersebut itu. Mana mungkin urusan Allah
digelar dg menggunakan infra struktur buatan manusia.
Yg sejatinya dilakukan adalah
mencari akses ke "LANGIT MAYA"
(وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ), carilah akses
kepadaNya, karena petunjuk/kalam Allah itu sejenis RUH (Energi Robbani/Samawi),
dan Sunnatullah itu adalah suatu cara (sistem dan teknologi) milik Allah yg satu2nya di alam raya ini, yg
tidak mungkin bisa diduplikasi oleh manusia atau domainnya diambil alih.
URUSAN ALLAH (KALIMATULLAH) yg
begitu SEMPURNA itu hanya bisa digelar dg infastruktur yg mumpuni yaitu makhluk
ciptaanNya sendiri (manusia) yg Dia pilih sendiri, bukan "makhluk"
buatan (produk) manusia yg bagi Allah itu sangat naif dan rendah, misalnya
kertas (buku), mesin atau gadget.
Makhluk ciptaan
("produk") Allah itu memiliki tiga spesifikasi keSEMPURNAan yg tidak
akan pernah didapati pada makhluk buatan manusia sampai kapanpun, yaitu :
1. HIDUP dan TUMBUH.
Pada awal launching (lahir/muncul
di bumi), kondisinya sederhana, kecil, lemah, rawan dsb. Kemudian dari waktu ke
waktu semakin membesar, makin kokoh kuat, makin perkasa, makin berkualitas da
berdayaguna. Sedangkan produk (buatan) manusia itu sebaliknya. Pada saat
launcing itulah kondisi terbaiknya. Dari waktu ke waktu kualitas dan kinerja/kebergunaannya
semakin menurun, usang, rusak dan malah jadi beban tak berguna (rongsokan).
2. BERMETAMORFOSIS.
Sosok, tampilan dan citranya
berubah, semakin bagus, makin elok, semakin tampil kesejatian pesonanya.
Sebaliknya dg "makhluk" produk manusia. Kian hari kian lusuh dan
kumuh, pesonanya kian memudar.
3. "AUTO REPRODUKSI"
alias berkembang biak.
Untuk menciptakan
("memproduksi") manusia yg bermiliar2 itu, Allah lakukan dg satu
"proses produksi" saja sampai terciptanya sepasang lelaki dan perempuan.
Setelah itu Allah tinggal "duduk manis" di "singgasana"
milikNya ('Arasy), dan manusia itu terus berkembang biak turun temurun
sepanjang masa.
Sedangkan manusia...? Klo butuh dua ya dua
proses produksi harus dijalankan. Butuh seribu, ya seribu proses juga. Tidak
memproduksi lagi, tidak ada produk lagi, punah. Produk manusia itu tidak bisa
berreproduksi, produsennyalah yg harus memprodoksi ulang.
Allah memandang dari
singgasananya dg senyum dan bergumam : "Bodoh banget sih kamu, udah bodoh
zalim lagi". Ya.., sangat bodoh dan
sangat zalim, begitulah menurut Allah
... إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومٗا جَهُولٗا
...Seungguhnya, manusia itu
sangat zhalim dan sangat bodoh, (Al Ahzab : 72)
Kebodohan dan kezaliman paling
parah adalah ketika mereka pikir bahwa Allah itu banyak maunya banyak butuhnya.
Ingin dusuguhi, butuh dibela, dan merekalah (manusi) yg punya kemampuan untuk
menyuguhi dan memenuhi keinginan dan kebutuhan Allah itu.
Mereka pikir bahwa Allah itu
sebodoh mereka, bahkan mereka merasa lebih pintar dan lebih bijak dari Tuhan,
sehingga konsep, kebijakan dan petunjukNya mereka "perbaiki", mereka
ubah2, bahkan mereka ganti sama sekali dg buatan dan cara mereka sendiri. Maka
"streaming" petunjuk/risalah Allah di bumi pun mereka MATIKAN alias
mereka "SHUT DOWN". Allah menyebut aksi mematikan (shut down)
streaming program Allah di bumi ini dg ungkapan : "mereka membunuh
Nabi2".
Allah mengungkapkan murkaNya atas
anggapan dan tindakan/aksi seperti itu dg KalamNya :
لَّقَدۡ
سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّذِينَ
قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ فَقِيرٞ
وَنَحۡنُ أَغۡنِيَآءُۘ سَنَكۡتُبُ مَا قَالُواْ وَقَتۡلَهُمُ
ٱلۡأَنۢبِيَآءَ بِغَيۡرِ حَقّٖ وَنَقُولُ ذُوقُواْ
عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ
Allah benar2 mendengar perkataan
orang2 yang mengatakan : “Allah itu "faqir" (= punya banyak kebutuhan
dan tak mampu memenuhi) sedangkan kami "aghniyaa” (=berkecukupan, bisa
memenuhi apa yg Allah mau dan butuhkan). Kami akan catat perkataan mereka itu
dan juga kelakuan mereka "membunuh" nabi2 tanpa hak (ilegal), dan Kami
akan katakan : “Rasakanlah azab yang membakar!” (NERAKA)(Ali 'Imran : 181)
Sikap dan tindakan bodoh manusia
itu mungkin saja didasari hasrat mengabdi dan berbuat banyak untuk Allah
("ibadah") tapi mereka tidak mengenal dan memahami sebagaimana mestinya
tentang URUSAN yg sedang Allah gelar di bumi ini serta cara/sistem
("teknologi") yg Allah gunakan dalam menggelar urusanNya itu,
sehingga tanpa disadari tindakan dan perilaku mereka malah bikin kerusakan dan
antagonis dg Urusan Allah tadi.
Fenomena tsb disebabkan
"agama Islam" yg diajarkan/dipelajari manusia selamat berabad2 ini
bukan lagi PETUNJUK yg Allah TURUNKAN, melainkan (diganti dg) ILMU yg dikarang
para ulama dari jaman dahulu sampai sekarang.
Makhluk Allah yg berwujud fisik
(jismiyyah) hidup dan tumbuhnya mempunyai batas limit (ajal/kematian). Tapi
keberadaan makhluk2 tsb terus berlanjut silih berganti dg kelahiran
(reproduksi) turun temurun. Adapun makhluk ("karya") Allah yg tak
berwujud (ruuhiyyah) berupa "soft ware/aplikasi" yg Allah sebut
"KALIMAH" / "KALIMATULLAH" / "KALIMATU ROBBIK" yg
Allah nyatakan SEMPURNA, satu ciri kesempurnaannya itu hidup dan tumbuhnya
terus menerus tanpa batas dan tak pernah diam membeku (stagnan).
Allah menggambarkan pertumbuhan
terus menerus itu dg ungkapan "puncaknya di langit", dg perumpamaan
suatu pohon yg baik (SYAJAROH THOYYIBAH)
أَلَمۡ
تَرَ كَيۡفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ
مَثَلٗا كَلِمَةٗ طَيِّبَةٗ كَشَجَرَةٖ طَيِّبَةٍ أَصۡلُهَا ثَابِتٞ وَفَرۡعُهَا فِي
ٱلسَّمَآءِ
Tidakkah kamu melihat (dg
nalarmu) betapa Allah telah membuat perumpamaan bahwa KALIMAH (konsep/ajaran)
yang baik itu ibarat pohon yang baik, akarnya kokoh (di bumi), pucuknya DI
LANGIT (di ketinggian tak terhingga) (Ibrahim : 24)
Di antara (turunan) karya cipta
Allah yg non fisik (immateri) yg Allah sebut KALIMATULLAH itu, adalah NUBUWWAH
(kenabian) dan AL KITAB yg berfungsi sebagai bimbingan/panduan hidup manusia di
dunia, agar mereka SELAMAT di akhirat.
Allah mengolah/memproses konsep
kenabian dan al kitab itu selama ribuan tahun pada media yg kompatibel untuk
itu yakni diri (jiwa) para nabi mulai ADAM sampai MUHAMMAD, yg semuanya adalah
manusia biasa (makhluk jismiyyah) yg usianya terbatas dan suatu saat meninggal
dunia (wafat).
Tapi kenabian (nubuwwah) dan al
kitab yg terinstal pada jiwa mereka adalah berjenis RUH (soft ware) yg hidup
terus dan terinstal kembali pada diri nabi berikutnya. Seiring estafeta para
nabi itulah Allah meng-up date dan meng-up date terus soft ware nubuwah dan al
kitab itu hingga sampai ke titik SEMPURNA pada kenabian Muhammad Rosulullah
sebagai "khotaman-nabiyyin" (penutup nabi2).
Eksistensi Nabi2/Rosul itulah yg
Allah jadikan media streaming (gelaran) petunjukNya bagi manusia. Bukan berupa
kertas, buku atau mesin (gadget) buatan manusia, dan bukan pula kaum elit
tertentu dari manusia itu sendiri. Begitulan Sunnatullah (cara/teknologi) Allah
yg tidak akan pernah berubah/berganti sepanjang masa.
Agama Allah sebagai petunjuk
dariNya itu Allah sebut juga sebaga CAHAYA TERANG yg MENERANGI.
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَكُم بُرۡهَٰنٞ
مِّن رَّبِّكُمۡ وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكُمۡ نُورٗا مُّبِينٗا
Hai manusia, benar2 telah datang kepadamu bukti kebenaran
dari Tuhanmu, dan telah Kami turunkan kepadamu CAHAYA YG NENERANGKAN. (An Nisa'
: 174)
Kemudian Nabi/Rosul yg Allah perankan sebagai
"media streaming" bimbingan dan petunjuk-Nya, Allah sebut sebagai : LAMPU PEMANCAR CAHAYA
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلنَّبِيُّ إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ شَٰهِدٗا
وَمُبَشِّرٗا وَنَذِيرٗا . وَدَاعِيًا إِلَى ٱللَّهِ بِإِذۡنِهِۦ
وَسِرَاجٗا مُّنِيرٗا
Hai Nabi, Sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai SAKSI,
pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan sebagai penyeru ke (jalan)
Allah dengan IZIN-Nya dan sebagai LAMPU pemancar cahaya. (Al-Ahzab : 45, 46)
Jelaslah bahwa hanya Nabi yg
Allah jadikan SAKSI atas kemusliman seseorang, hanya nabi yg punya IZIN
berdakwah (menyeru) ke Jalan Allah, dan hanya Nabi yg dijadikan LAMPU pemancar
cahayaNya.
Memang cahaya itu hanya bisa ada
jika ada sesuatu yg mengeluarkan /memancarkannya, antara lain
"lampu". Ketika lampu itu mati maka cahaya itupun padam, gelap
gulita, "mati lampu"
Allah mengingatkan bahwa orang2
bodoh tapi ambisius itu ingin MEMADAMKAN CAHAYA ALLAH.
يُرِيدُونَ
لِيُطۡفِـُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ
وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ
كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ
Mereka ingin memadamkan Cahaya
Allah dengan mulut2 (narasi) mereka, tapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya
meskipun orang2 kafir membencinya. (Ash Shaf : 8)
"Mulut2" (narasi) yg
mereka gunakan untuk memadamkan cahaya Allah (mematikan lampu, "membunuh
nabi2") adalah berupa hoax yg berbunyi "tidak akan ada lagi
Nabi/Rosul sampai hari kiyamat". Inilah hoax yg menggelapkan petunjuk
Allah selama belasan abad.
Memang benar bahwa penbentukan
("pencetakan") Nabi2 dan pengembangan "aplikasi" NUBUWWAH
telah Allah lakukan tuntas (khatam) dan sempurna selama rentang zaman antara
Adam sampai Muhammad. Setelah itu Allah pun "duduk manis", tidak lagi
mengolah pengembangan nubuwwah, tidak lagi mencetak nabi2.
Tapi Allah itu kan tidak sebodoh
manusia. Estafeta para Nabi yg Allah jadikan media pengembangan NUBUWAH dan AL
KITAB itu tidak seperti halnya Universitas buatan manusia tempat pengembangan
ilmu pengetahuan dan pencetakan sarjana. Jika tidak ada lagi Universitas di
muka bumi dan tidak ada lagi proses pencetakan sarjana, maka keberadaan Sarjana
itupun suatu saat akan punah.
Disinilah kezaliman manusia yg
paling besar (ظُلۡمٌ عَظِيمٞ ), Menganggap Allah
sebodoh mereka, merasa dirinya mampu menggantikan cara Allah yg mereka anggap
sudah mentok.
Karya (makhluk) Allah yg bersifat
fisik (jismiyah) itu memiliki tiga ciri kesempurnaan yaitu : TUMBUH BERKEMBANG,
BERMETAMORFOSIS dan BERREPRODUKSI.
Pertumbuhannya berbatas limit, tapi keberadaannya berlanjut terus dg
berreproduksi.
Adapun kayra Allah yg non fisik
(soft ware) dan terinstal pada jiwa manusia, (antara lain Al Kitab dan Nubuwah)
pertumbuhan dan metamosfosisnya TANPA LIMIT, streamingnya berkelanjutan dg cara
menginstal kembali (reinstalling) secara otomatis ketika ada (muncul) jiwa
manusia yg kompatibel.
وَلَقَدۡ
أَرۡسَلۡنَا نُوحٗا وَإِبۡرَٰهِيمَ وَجَعَلۡنَا
فِي ذُرِّيَّتِهِمَا ٱلنُّبُوَّةَ وَٱلۡكِتَٰبَۖ فَمِنۡهُم مُّهۡتَدٖۖ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ
Dan sungguh Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami
jadikan pada KETURUNAN keduanya kenabian dan al kitab, di antara mereka ada
yang mengikuti petunjuk (bertakwa) dan banyak di antara mereka yang FASIK. (Al
Hadid : 26)
Setiap makhluq bernyawa pasti
mengalami mati, tak terkecuali nabi dan rosul. Tapi soft ware (aplikasi
ruhiyah) yg terinstal pada diri2 mereka, yg Allah sebut juga "ADZ
DZIKRU" (ajaran), tetap hidup dan terjaga kelestariannya dlm
penyimpanan/penjagaan Allah.
إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا
ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ
Sesungguhnya Kami telah yang menurunkan
adz dzikra, (Al Quran) dan Kami benar2 menjaganya (tetap hidup lestari). (Al
Hijr : 9)
Dengan demikian kenabian dan
kerosulan yg merupakan "aplikasi" karya Allah itu tidak akan PUNAH.
Yg mungkin terjadi itu FATRAH (terputus) penayangan (streaming)-nya di bumi,
sebagaimana yg terjadi di masa ini, tapi tetap dimungkinkan eksis/tayang
kembali kapan saja.
Kondisi FATRAH itu terjadi selama
STREAMING bimbingan dan petunjuk Allah di bumi ini padam (off) karena
keberadaan Rosul yg dilanjutkan dg Kholifatu`r Rosul yg berperan sebagai
"Siroojan Muniiroo" (lampu pemancar cahaya) itu terputus (maka
gelaplah) dan tidak (belum) muncul lagi pengganti yg melanjutkan tayangan
(steaming)nya itu.
Kondisi fatrah ini terjadi bukan
disebabkan kebijakan Allah tidak mengutus/memunculkan lagi seorang Rosul,
melainkan suatu keniscayaan (by system), yaitu tak kunjung hadir (muncul)
seseorang yg jiwanya kompatibel untuk al kitab dan nubuwah yg tetap hidup itu
menginstal kembali ("reinstalling") pada dirinya.
Namun walau bagaimanapun, dalam
keadaan fatrah tsb tidak lantas sistem streaming petunjuk Allah berganti dg
cara (modus) yg lain atau kembali kepada srstem/konsep/ajaran buatan manusia.
وَمَا
مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ
خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُۚ
أَفَإِيْن مَّاتَ أَوۡ قُتِلَ
ٱنقَلَبۡتُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡۚ وَمَن
يَنقَلِبۡ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ فَلَن
يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيۡـٔٗاۚ وَسَيَجۡزِي
ٱللَّهُ ٱلشَّٰكِرِينَ
Muhammad hanyalah seorang Rosul,
sebelumnya telah berlalu beberapa rosul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu
lantas putar balik (kembali menyembah
berhala, berpetunjuk dari selain Allah)? ... (Ali Imran : 144)
Kondisi fatrah dimana kalangan
elit "ilmu agama" ini Allah sebut Ahlul Kitab, akan berujung pada
munculnya kembali seorsng rosul, bukan yg lain.
يَٰٓأَهۡلَ
ٱلۡكِتَٰبِ قَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولُنَا
يُبَيِّنُ لَكُمۡ عَلَىٰ فَتۡرَةٖ
مِّنَ ٱلرُّسُلِ أَن تَقُولُواْ مَا
جَآءَنَا مِنۢ بَشِيرٖ وَلَا
نَذِيرٖۖ فَقَدۡ جَآءَكُم بَشِيرٞ
وَنَذِيرٞۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ
قَدِيرٞ
Hai Ahli Kitab, sungguh telah
datang kepadamu Rasul Kami, memberi kejelasan kepadamu pada masa terputus
(FATRAH)nya rasul2, agar kamu tidak mengatakan, “Tidak ada yang datang kepada
kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.”
Sungguh, telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.
Dan Allah Maha Menakar (menetapkan qadar) atas segala sesuatu. (Al Ma'idah :
19)
Tak kunjung munculnya itu bukan
atas kebijakan Allah, melainkan faktor qodary (system) dimana kriteria/syarat
utama terinstalnya al kitab dan nubuwah itu adalah diri/jiwa yg Allah sebut
"UMMIYYIIN", yg secara harfigah artinya BUTA HURUF.
هُوَ
ٱلَّذِي بَعَثَ فِي ٱلۡأُمِّيِّـۧنَ
رَسُولٗا مِّنۡهُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن
قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ
Dialah yang membangkitkan seorang
Rasul DI KALANGAN orang2 yg buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang
mewacanakan kepada mereka ayat2-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan
kepada mereka Kitab dan Hikmah, sedangkan keadaan mereka sebelum itu, tak lain
adalah benar2 dalam kesesatan yang nyata. ) Al Jumu'ah : 2)
وَءَاخَرِينَ
مِنۡهُمۡ لَمَّا يَلۡحَقُواْ بِهِمۡۚ
وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ
Dan (Dia membangkitkan Rosul
juga) di kalangan kaum (buta huruf) lainnya yang belum berhubungan (terkoneksi)
dengan mereka. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (Al Jumu'ah : 3)
Ada lagi seseorang (apalagi kaum)
yg buta huruf dlm arti harfiyah, di zaman peradaban manusia pasca Muhammad
Rosulullah ini nyaris mustahil. Karena Allah telah menetapkan dalam Sunnah-Nya
(Sunnatullah) bahwa Dia mengajari (mengembangkan ilmu) pada manusia itu dg PENA
(melalui budaya tulis menulis).
ٱلَّذِي عَلَّمَ
بِٱلۡقَلَمِ . عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا
لَمۡ يَعۡلَمۡ
Yang mengajari (manusia) dengan
pena.
Dia mengajari manusia apa yang ia
belum ketahui. (Al 'Alaq : 4,5)
Tapi sekali lagi Diinul Islam itu
BUKAN ILMU melainkan PETUNJUK DARI ALLAH ("Minnii Hudan"). Ilmu itu
memang didapat dan dikembangkan manusia melalui budaya tulis-baca, sedangkan
petunjuk Allah itu suatu "aplikasi Robbani" berupa Nubuwwah dan Al
Kitab yg Allah instalkan dan sekaligus tayangkan pada sosok manusia biasa yg
UMMIY.
Allah menurunkan Al Kitab itu
bukan dalam bentuk tulisan, melainkan berupa "soft ware" (ruh) yg
diwahyukan dan langsung terpasang di hati, tanpa yg bersangkutan harus membaca
tulisan.
نَزَلَ
بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ . عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ
مِنَ ٱلۡمُنذِرِين
Yang dibawa turun oleh ar-Ruh
al-Amin (Ruh yg kredibel), ke dalam hatimu agar kamu termasuk orang yang
memberi peringatan, (Asy Syu'ara : 193,194)
Orang yg terinstal pada dirinya
nubuwah dan Al Kitab itu kemudian Allah
sebut Nabi/Rosul, lalu orang2 beriman yg ingin mengikuti petunjuk Allah itu
tinggal mengikuti dan dan mentaatinya, dan untuk itu siapapun bisa melalukannya
tanpa harus "berilmu".
Hanya dengan cara itulah (kiprahnya
seorang Rosul mengemban missi/risalah) streaming-nya petunjuk Allah,
terpancarnya Cahaya Allah. Suatu cara ("teknologi") Allah
(Sunnatullah) yg tidak akan pernah berubah atau berganti selamanya, karena
pengembangannya sudah sampai pada titik SEMPURNA.
Tetapi sebagaimana yg Allah
nyatakan : "Mereka ingin memadamkan Cahaya Allah dg mulut2 mereka",
maka streaming petunjuk Allah itu, atau lampu pemancar Cahaya Allah itu mereka
matikan (shut down), maka gelaplah kehidupan manusia dari cahaya petunjuk Allah.
Allah menyebut tindakan tsb dg ujaran (kalam) : "MEREKA MEMBUNUH
NABI2".
Mereka menganggap
"tehnik" penciptaan yg Allah lalukan itu senaif cara manusia. Yaitu :
jika tidak ada lagi perguruan tinggi yg mencetak Sarjana, maka tidak akan ada
lagi sarjana baru, dan suatu saat Sarjana itu akan punah. Senaif manusia itulah
anggapan mereka ttg cara Allah mencetak Nabi2
Allah hanya menyatakan bahwa
proses pengembangan "aplikasi" kenabian dan al kitab yg berlangsung
ribuan tahun dari generasi ke generasi itu telah selesai tuntas (KHATAM) dan
sempurna pada kenabian MUHAMMAD ROSULULLAH, maka Allah sebut Muhammad itu
"Khotaman Nabiyyin" (Penutup tuntas Nabi2).
Tentu saja para Nabi yg manusia
biasa itu, yg Allah pilih untuk dijadikan "gadget" pada streaming
petunjukNya itu wafat dan wafat pada saatnya masing2. Tapi aplikasi Robbani
berupa kenabian dan al kitab (yg Allah sebut juga ADZ DZIKRA) yg sifatnya
ruuhiyyah (soft ware) yg terinstal pada diri mereka itu Allah simpan, jaga dan
lestarikan, dengan tetap hidup, tumbuh dan bermetamorfosis, sebagai sifat
kesempurnaan Karya Allah.
Sejatinya setiap saat bisa
otomatis terinstal kembali manakala ada hati/jiwa manusia yg kompatibel untuk
itu yakni UMMIYYIIN, orang2 "buta huruf", yg dalam makna aplikatif
operatif : BEBAS (buta) LITERASI. Tidak ada syarat lainnya kecuali
"ummiyyiin" itu.
Literasi atau "jejak
pena" itu Allah jadikan media/sarana pengembangan ilmu pengetahuan, dan
semua jejak pena (literasi) itu adalah ide, karya, buah pikiran dan kreatifitas
manusia. Sedangkan Petunjuk dari Allah yg Dia turunkan kedalam hati2/jiwa
manusia yg Dia sebut "Adz Dzikru" (ajaran) itu sama sekali bukan
berupa fisik materi melainkan berupa Aplikasi Ruhiyyah yg hanya mungkin tumbuh
mengonsepsi (membuah) pada jiwa nanusia tanpa tercampuri (ter-distorsi) oleh
seditpun buah pikiran (campur tangan) manusia lm perumusan petunjuk tsb.
Allah menyebut manusia berjiwa
bersih sedemikian itu dg sebutan : 'IBAADALLAHI`L MUKHLASHIIN", hamba2
Allah yg DIMURNIKAN, satu2nya segmen manusia yg selamat dari tipuan Iblis,
selamat dari KETERSESATAN.
قَالَ
رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ
لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ
أَجۡمَعِينَ . إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ
ٱلۡمُخۡلَصِينَ
Ia (Iblis) berkata, “Tuhanku,
karena telah Engkau tetapkan bahwa aku sesat, pasti akan aku hiaskan (pasang
hiasan) bagi mereka di bumi, dan (dg itu) aku akan sesatkan mereka semuanya,
kecuali hamba2-Mu yang
MUKHLASHIIN (dimurnikan) diantara mereka.” (Al Hijr : 39-40)
إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ
ٱلۡمُخۡلَصِينَ
Kecuali hamba2 Allah yang
dimurnikan, (Ash Shaffat : 40, 74, 128, 160)
Berulang kali Allah mengingatkan
bahwa manusia yg bisa selamat, tidak tertipu oleh "hiasan" yg
dipasang iblis itu hanya "hamba2 Allah yg DIMURNIKAN" (عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ).
Selaras dg kriteria
"Ibaadallahi`l Mukhlashiin" tsb berulang kali Allah jelaskan bahwa
setiap Rosul mengakses petunjuk dari Allah itu hanya dg mentafakkuri fakta2 dan
fenomena kehidupan yg ia saksikan dan rasakan (bebas literasi), dan Itulah yg
Allah sebut AL HIKMAH. Kemudian ia padukan dg memori Kalamullah yg ada pada
dirinya (AL KITAB). Orang2 yg menjalankan metode pembentukan konsepsi
("Kalimah") secara demikian itulah yg Allah sebut ULUL ALBAAB
(pengguna akal murni), identik dg "UMMIYYIIN"
Dengan metode itu pulalah bisa
mengidentifikasi dan mengeliminasi anasir2 fiktif yg terpasang (dipasang orang)
pada sistem PetunjukNya itu, maka jiwanya bersih dari anasir fiktif tsb, itulah
"Ibadallahi`l Mukhlashiin", hamba2 Allah yg dimurnikan.
Untuk melakukan langkah tsb dan
meraih kondisi MUKHLASHIN inilah penegasan dari Allah berikut :
وَمَآ
اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ
مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ
حُنَفَاۤءَ..
Dan tidaklah mereka diperintah
kecuali agar mengabdi kepada Allah dg MEMURNIKAN agama-Nya secara bersih dan
lurus (hanif).. (Al Bayyinah : 5)
Tapi alih2 menjalankan arahan dan
petintah Allah, mereka malah mengambil langkah antagonis diametral, sebagaimana
yg Allah nyatakan :
وَاِنْ
كَانُوْا لَيَقُوْلُوْنَۙ . لَوْ اَنَّ عِنْدَنَا
ذِكْرًا مِّنَ الْاَوَّلِيْنَۙ . لَكُنَّا
عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ . فَكَفَرُوْا
بِهٖۚ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ
Dan benar2 mereka mengatakan :
"Kalau saja ada pada kami suatu AJARAN DARI ORANG2 DAHULU (ذِكْرًا مِّنَ الْاَوَّلِيْنَۙ),
sungguh kami akan menjadi "hamba2 Allah yg dimurnikan" (عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ)".
Maka merekapun KAFIR pada (Al Quran/petunjuk)-Nya, maka kelak mereka akan
mengetahui. (Ash Shoffat : 167-170)
Begitulah yg terjadi, terma عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ
hanya jadi halusinasi, khayalan. Setelah streaming petunjuk Allah di bumi
di-shut down, lampu pemancar cahaya Allah (سِرَاجٗا
مُّنِيرٗا) dipadamkan,
Aplikasi Robbani berupa Al Kitab dan Nubuwwah pun diblokir, maka Petunjuk dari
Allah itupun tidak tayang/streaming lagi, manusia terperangkap dlm KEGELAPAN.
Kemudian sebagaimana langkah
kafir yg Allah ingatkan pada ayat di atas, Al Quran mereka ingkari, mereka
gantikan dg "ilmu2 agama" (ulumuddin) yg dikarang dan diajarkan
orang2 dahulu (dzikron minal awwaliin). Ilmu tauhid, ilmu fiqih, ilmu tafsir,
ilmu hadits dllsb, semua itu 100% karangan manusia, ulama2 jaman dahulu.
Padahal jangankan ijin untuk itu, sedikit isyarat saja yg membolehkannya dari
Allah tidak ada. Yg ada malah warning untuk tidak membuat dan mengikutinya.
اَمْ
لَهُمْ شُرَكٰۤؤُا شَرَعُوْا لَهُمْ مِّنَ الدِّيْنِ
مَا لَمْ يَأْذَنْۢ بِهِ
اللّٰهُ ۗوَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۗوَاِنَّ الظّٰلِمِيْنَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
Apakah mereka mempunyai (mengikuti)
para PENYEKUTU Allah yang membuat
"syariat" bagi mereka dari agama ini, sesuatu yg TIDAK DIIZINKAN
Allah? Kalau tidak karena konsep yang terperinci (bahwa segala sesuatu sudah
ada ketentuannya) sungguh telah ditimpakan hukuman di antara mereka. Dan sesungguhnya
orang2 zalim itu akan mendapat azab yang sangat pedih. (Asy Syuro : 21)
Maka selama belasan abad kaum
muslimin di muka bumi ini tidak lagi mengikuti PETUNJUK DARI ALLAH, karena
gelaran (streaming)-ya telah dimatikan. Mereka ganti dg ilmu2 agama (Islam)
buatan manusia yg selama belasan abad membelenggu dan memberhala pada jiwa2
mereka. Tidak ada PETUNJUK yg diikuti. Masing2 orang berucap, berbuat dan
bertindak menurut "ilmu" yg masing2 mereka miliki. Maka perselisihan
dan terpecah belah yg sangat dimurkai Allah tak mungkin terhindarkan.
Sedangkan semua "ilmu2"
tsb adalah buatan manusia yg tidak bisa membuat sesuatu yg hidup. Manusia hanya
bisa membuat produk mati yg tidak tumbuh dan tidak bermetamorfosis, malah
semakin lama semakin lapuk, basi dan beracun. Bigitulah semua buatan manusia yg
untuk dikonsumsi dirinya.
Parahnya lagi, disebutnya
"ilmu" tapi tidak sebagaimana ilmu pengetahuan (sains), dibangun
berbasis fakta2 empiris dan pembuktian, melainkan hanya dg jelajah literasi.
Dari opini ke opini, pernyataan demi pernyataan, katanya dan katanya, bahkan dg
membekukan penalaran dan akal sehat, atas nana
"iman"/"keyakinan"/"aqidah".
Allah menyebut semua itu sebagai
"dzhonnu" (dugaan/persangkaan) dan
"iftiroo"/"ikhtirosh" (mengada2), yg menyesatkan dan jauh
dari kebenaran
وَاِنْ
تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ
يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ
ۗاِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ
هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ
Jika kamu mengikuti kebanyakan
orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Karena
yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah mengada2
kebohongan. (Al An'am : 116)
وَمَا
يَتَّبِعُ اَكْثَرُهُمْ اِلَّا ظَنًّاۗ اِنَّ
الظَّنَّ لَا يُغْنِيْ مِنَ
الْحَقِّ شَيْـًٔاۗ ....
Kebanyakan mereka hanya mengikuti
persangkaan, padahal persangkaan itu tidak berguna sedikitpun untuk suatu
kebenaran... (Yunus : 36)
PETUNJUK DARI ALAH (ajaran Islam)
itu berbasis BUKTI2 NYATA (aayaatun bayyinaat) dan selalu mengaktifkan secara
optimal PENGAMATAN, PERASAAN DAN PENALARAN (sam'a wal abshor wal af`idah).
Sehebat apapun "katanya" itu dan kata siapapun manusia, bukanlah
bukti kebenaran. Kebenaran (Al Haq) itu tidak berdasar kata siapapun selain
"kata Allah" (Kalamullah) yg nyata adanya (bayyinah/"qoth'il
wurud"), yg pasi selalu padu dan selaras dg fakta2 (up to date) sepanjang
masa.
Sedikit sekali konten Al Quran yg
digunakan dalam menyusun "ilmu agama". Itupun sebenarnya bukan dari
sejatinya Al Quran melainkan dari "tafsir"-nya yg buatan manusia, yg
sifatnya dzhonnu dan nisbi yg tidak bisa berumur panjang karena apapun buatan
manusia itu suatu saat akan menjadi usang/kedaluwarsa. Yg disebut "al
quran"-nya pun bukan Al Quran yg sebenarnya melainkan hanya semcam
"screen shot" dari tayangan Al Quran di masa tayangnya dahulu. Allah
menyebut yg demikian itu "SUHUF", dan banyak orang menyebutnya
MUSHAF.
Maka "ber-quran" secara
demikian Allah sebut sebagai PEMBOHONGAN, karena Al Quran yg sejatinya itu
tidak kemana2, tetap di LAUH MAHFUDZH. Al Quran itu "Aplikasi
Robbani" berupa soft ware, bukan hard ware.
بَلِ
الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِيْ تَكْذِيْبٍۙ . وَّاللّٰهُ
مِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ مُّحِيْطٌۚ . بَلْ هُوَ قُرْاٰنٌ
مَّجِيْدٌۙ . فِيْ لَوْحٍ مَّحْفُوْظٍ
Tapi orang2 kafir itu dalam kebohongan, dan Allah pun
meliput dari bekang nereka, karena sejatinya dia (Al Quran itu) suatu bacaan yg
mulia, (yg ada) di Lauh Mahfudzh (bukan yg tertulis di kertas). (Al Buruj :
19-22)
Celakanya, ajaran yg 100% produk
manusia belasan abad lalu itu di-branding dg Nama Allah, Agama Allah, Agama
Langit, diklaim sebagai aturan hukum (syari'at) dari Tuhan Pemilik dan Penguasa
Alam Semesta, ditenagai dg "Ruh Robbani" yg disebut AKIDAH dan JIHAD,
sehingga menuntut seluruh manusia untuk tunduk mengimani. Orang2 yg munolak dan
mengingkarinya dicap kafir, musuh Allah yg wajib diperangi dan halal dibunuh.
Bahanya tuh disini.
Dengan demikian semua bentuk
narasi dan aksi dibalik label "Islam" di muka bumi ini adalah
kepalsuan yg ilegal. Urusan Allah (gelaran petunjukNya) di bumi ini sudah
belasan abad SHUT DOWN alias TUTUP (fatrah), ditarik lagi ke langit sapai tiba
"HARI ALLAH" berikutnya, yaitu kehidupan di bumi kembali diterangi
CAHAYA ALLAH, yg utuk itu butuh waktu seribu tahun
يُدَبِّرُ
الْاَمْرَ مِنَ السَّمَاۤءِ اِلَى
الْاَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ اِلَيْهِ
فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗٓ
اَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوْنَ
Dia (Allah) menggelar urusan dari
langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik (kembali) kepada-Nya dalam
"satu hari" (satu siklus gelap dan terang) yang kadar lamanya itu
SERIBU TAHUN menurut perhitunganmu. (As Sajdah : 5)
Ketika streaming urusan Allah
("tadbiirul amri") di bumi ditarik lagi ke langit, maka
"urusan" tsb tidak ada di bumi lagi. Dg demikian semua produk yg
"dipasarkan" dg label "Allah" adalah produk tiruan alias
palsu. Sedangkan memalsukan produk dan memasarkannya itu adalah tindakan
kriminal (kezhaliman).
Saya akhiri sampai disini dulu
tulisan ini. Insyaallah akan disusul tulisan berikutnya dg tajuk : DG
DIGELAPKANNYA AKSES KE "LANGIT MAYA" BELASAN ABAD MANUSIA BER-ISLAM
DI "DUNIA KHAYAL"

Terimakasih
ردحذفإرسال تعليق